Kesetaraan dalam Islam

Menurut sebuah tradisi yang disebutkan oleh Ibn Kathir (wafat 1373), para elit Quraish berkata kepada Nabi Muhammad, semoga damai dan salam besertanya, bahwa mereka menganggapnya di bawah martabat mereka untuk duduk bersama orang-orang miskin layaknya Bilal, Suhaib, ‘Ammar, Khabbab, Ibn-Mas`ud dan sejenisnya yang kebanyakan senantiasa di perusahaannya. Mereka menyatakan cuma jika dia wajib mengirim mereka pergi, mereka bakal bersedia menghadiri pertemuannya untuk belajar Islam.

Mendengar hal ini, Allah mengutarakan ayat ini yang menasihati Nabi: “Apakah anda berhasrat untuk menyingkirkan orang-orang yang tulus tapi miskin ini sehingga para pemimpin Quraisy, orang-orang kaya, wajib datang dan duduk di dekatmu?” Pada selagi yang sama, ini terhitung merupakan teguran bagi para pemimpin Quraisy: “Kekayaan Anda yang Anda banggakan tidak mempunyai nilai mirip sekali di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang miskin itu terlalu lebih miliki nilai di mata mereka, karena mereka tulus dan senantiasa mengingat Allah. ”

Islam tunjukkan kesetaraan total di antara bimbingan belajar quran seluruh umat manusia, tanpa lihat keyakinan, warna kulit, bahasa, standing sosial, kekayaan, atau latar belakang etnis seseorang. Seluruh alam semesta adalah milik Allah dan seluruh manusia adalah ciptaan-Nya. Setiap orang dilahirkan mirip dan bakal mati sama. Dia bakal menghakimi tiap-tiap orang atas dasar jasa dan perbuatan.

Nabi Muhammad tunjukkan di dalam khotbah perpisahannya, “Wahai manusia. Tuhanmu adalah satu dan ayahmu adalah satu (Adam). Orang Arab tidak mempunyai keunggulan dibandingkan orang non-Arab, terhitung orang non-Arab mempunyai keunggulan dibandingkan orang Arab. Juga putih tidak mempunyai keunggulan di atas hitam terhitung tidak hitam mempunyai keunggulan di atas putih, jika oleh kesalehan dan kebenaran. Semua manusia berasal berasal dari Adam dan Adam berasal dari debu. ”

Lihatlah Nabi kita yang secara praktis menjunjung orang-orang kelas dua di antara orang Quraisy. Sebagai contoh, setelah kematian ibunya terhadap umur 6 tahun, budak Ethiopia ayahnya, Ummu Ayman, merawatnya. Sampai dia menjadi seorang Nabi dia tetap menghormatinya layaknya ibunya sendiri dan dia menganggapnya sebagai anggota keluarga. Dia terhitung mengadopsi seorang budak laki-laki, Zayd, dan membesarkannya layaknya putranya sendiri. Setelah istrinya Khadijah meninggal, dia menikah bersama seorang wanita kulit hitam, Sauda. Ketika Muslim menaklukkan Mekah, Nabi menyuruh Bilal naik ke atas Ka’bah untuk memproklamirkan Azan, panggilan untuk sholat. Itu dilaksanakan untuk tunjukkan kepada orang-orang prestise orang kulit hitam di dalam Islam.

Setelah sebagian minggu terhadap ziarah tahunan, kita bakal lihat Muslim berasal dari seluruh dunia berkumpul di Mekah. Mereka berkata bahasa yang tidak serupa tapi melakukan seluruh ritual bersama tanpa perbedaan. Di masjid-masjid di dekat rumah-rumah kami, kita menyimak fakta ini juga, saat orang kaya dan miskin, berkulit putih dan berkulit hitam, berpendidikan dan awam seluruh berdiri bersama menyembah Satu Tuhan mereka. Semua kondisi kesetaraan di dalam Islam ini diperkenalkan terhadap zaman saat orang lihat rendah orang lain cuma karena standing sosial atau garis keturunan mereka, berabad-abad yang lantas sebelum Revolusi Perancis atau Deklarasi Hak Asasi Manusia. Dalam Islam siapa pun yang melakukan tingkah laku benar bersama kepercayaan dan kesalehan penuh, menjadi orang yang dicintai Allah.